Bintang Tauladan !

Entrepreneur Lifestyle … mempersiapkan diri untuk menjadi Teladan.

Memulai Bisnis dg Hobi

Posted by akhmad Guntar pada Mei 31, 2007

Kemarin baru saja saya mengelola Technopreneur Workshop dg peserta adik2 saya dari T.Informatika ITS. Amat menarik; tidak satu pun dari peserta membuat gagasan bisnis yang terkait dg software. Gagasan mereka berkisar mulai dari pet’s salon, kerajinan tangan, transportasi umum alternatif sampai butik pakaian tradisional.

Trus yang kayak gitu itu apa lantas boleh dibilang pengkhianat?:mrgreen: ya ndak laah. Yang penting kan kita bisa jadi insan yang bawa kemanfaatan bagi masyarakat, ndak nganggur dan merasa tertekan dalam status itu.
bisnis pakaian hewan kelinci
Bisnis Pets’ Boutique. Anda tertarik?😛

Post ini telah dimigrasikan ke AkhmadGuntar dot com
Silahkan klik link berikut untuk terus membaca :

Memulai Bisnis dg Hobi

26 Tanggapan to “Memulai Bisnis dg Hobi”

  1. Kalo hobi makan gimana? Hehehe… Memang bener, memulai dengan hobi adalah ide bisnis yang bagus. Soalnya minimal kan kita sudah punya passion di bidang itu.

    Btw, hobi makan ini kalo di luar negeri bisa jadi juru cicip profesional, ada disinggung di buku The Tipping Point.

  2. Hedi said

    Pemilik kantor saya hobi banget sama sepakbola dan akhirnya bikin usaha yang berhubungan dengan itu. Kalo istilah dia, hobi tapi dibayar.

    Jadi, salah satu jalan buat berbisnis memang bagusnya lewat hobi. Kalau sudah hobi, biasanya jadi serius dan akhirnya berguna buat bisnisnya.

  3. Lita said

    Pertama, membaca. Kedua, menulis. Nah, udah pas banget kan tuh sama yang dilakuin sekarang? Hehehe…
    Sementara hobi ketiga, keempat dan kelima (menggambar, berenang/main air, dan tidur) bisa dipuaskan bareng anak-anak:mrgreen:

  4. Eep said

    Menjalankan bisnis dengan kecintaan itu sangat menyenangkan…, salah satunya ya dari hobby…

  5. haikal said

    klo hobinya blogwalking gmn ya……….

  6. Guntar said

    Donald:
    Beneran deh, jadi pencicip itu emg enak. Tapi ya gitu, klo riilnya bener2 cuman boleh mencicipi, ndak boleh makan sampe puas, akan jadi siksaan juga🙄 Yang jelas, juru cicip profesional saya kira bukan cuman skedar punya kemampuan utk bilang “Mak Nyus” doang yah😛

    Hedi:
    Ibaratnya gini:
    “Cari satu hobi yang paling kamu sukai, habis gitu, cari orang2 yang bersedia membayar kamu untuk menjalani hobi itu”😎

    Lita:
    Dari hobi yang kedua, berarti hobinya adl berbagi. Dan alangkah luar biasanya klo kita emang dibayar justru menjalani hobi kita. Tapi emg susah klo punya hobi tidur terus dibayar🙄:mrgreen:

    Eep:
    Benar sekali, Bang Eep. Apa2 yang kita cinta sebenernya belum tentu jadi bisnis yang bagus. Tapi mencintai apa2 yang kita kerjakan sudah pasti jadi modal untuk sukses. Dg izin Sang Maha Perkasa😛

    Haikal:
    Blogwalking bisa jadi uang lho. Coba aja kumpulkan hikmah dari hasil jalan2 di blogosphere, lalu jadikan itu buku, jadikan itu resource utk ngasih training😉

  7. bank al said

    kalau hobby-nya bobok gimana Om ?

  8. perantara said

    ane suka foto mancing ikan paus nyee.. hehehe pinjem yak buat avatar YM heheh

  9. Putri said

    kalau hobinya bobok (mungkin) bisa jadi konsultan orang-orang yang susah bobok. ^_^ seperti di salah satu serialnya Doraemon, dimana Nobita jadi Pakar Tidur … ^_^ Ngaco …

  10. “Amat menarik; tidak satu pun dari peserta membuat gagasan bisnis yang terkait dg software… ” saya mengutip kalimat ini karena menurut saya hal ini penting. Mengapa para mahasiswa Teknik Informatika yang mestinya belajar dan menekuni IT malah nggak melirik bisnis IT?

    Saya tidak melihat ini dari segi penghianatan atau tidak. Namun, menurut saya ini tanda kegagalan pendidikan khususnya di kampus. Dimana, para mahasiswa tidak memiliki wawasan bisnis justru di bidang yang digelutinya. Mereka tidak memiliki sense of belonging, bagaimana mengembangkan IT menjadi sesuatu yang menarik atau kalo memang jadi hobby, mengapa tidak memiliki hobby di bidang IT?

    Jika yang menjadi ujung tombak perkembangan IT sendiri tidak memiliki semangat mengembangkan bisnis IT? Lalu beban tanggung jawab siapa? Lulusan Teknik Kimia? Atau Ekonomi atau justru sastra?

    Ini akan menjadi bumerang bagi bangsa kita sendiri, jika kita meninggalkan bidang kita sendiri. Bumerang tersebut adalah produk atau jasa yang dihasilkan bangsa kita nanti tidak akan memiliki nilai daya saing. Karena yang mestinya berjuang di bidangnya malah tidak memiliki hobby untuk menekuninya atau dijadikan dasar bisnis.

    Mari kita cintai produk dalam negri, juga keahlian kita sendiri.

  11. nakula said

    Menarik, memulai bisnis dengan hobi. Selain nyaman dan menyenangkan, semangat untuk menjalankan bisnis kemungkinan tetap terjaga.

    Tetapi, permasalahan mungkin timbul ketika akan menjual barang.
    Contoh : orang yang hobi mengoleksi barang antik, ketika ada orang yang mau membeli barang tsb dengan harga yang tinggi sekalipun, biasanya nggak akan dijual .

    Mungkin permasalahaannya bukan pada hobi saja, tetapi bagaimana kemampuan orang tsb memanajemen dan melihat peluang.

    Teman saya sukses bisnis daur ulang sampah, meskipun ia benci sampah karena disamping rumahnya sering dijadikan tempat pembuangan sampah oleh penduduk setempat. tapi ia memandangnya sebagai peluang dan dengan manajemen yang bagus, ia bisa sukses.

    So …. ?

  12. gudangku said

    setuju Pak..soale saya juga memulai bisnis dari Hobi, dan hasilnya serba menyenangkan..hehehe..

  13. Guntar said

    Amat menarik sekali, mas Seger🙂

    Banyak memang mahasiswa yang belum memiliki wawasan bisnis dari bidang yang digeluti. Dan amat disayangkan bhw kewirausahaan memang tidak diajarkan scr kontekstual di kampus. Di kampus, kebanyakan riset2 ilmiah, penugasan2 hingga judul skripsi lebih diarahakn untuk intellectual atau academic exercise. Artinya, amat sedikit (mo bilang ngga ada ya gimana gitu) karya2 yang bener2 relevan dg kbutuhan masyarakat atau dibangun dg paradigma bisnis.

    Di kampus, mahasiswa juga seperti terkotak2 dg bidang keilmuannya. Spt informatika, sudah pasti tidak bisa berdiri sendiri. Dalam menunjukkan kedigdayaannya, informatika harus dipertemukan dengan berbagai ragam keilmuan, bahkan ‘sekedar’ untuk memastikan solusi ybs bener2 menyelesaikan persoalan dan lalu memastikannya terjual. Akhirnya byk anak informatika yang berpikir mereka skdr programmer, bukan technopreneur.

    Terima kasih krn sudah berbagi, mas Seger😛

  14. Guntar said

    Mas Nakula,
    Memang seseorang yang berhobi tidak lantas punya kemampuan untuk melihat peluang, memasarkan hingga mengelola bisnisnya. Bener sampean, Mas Nakula: hobi itu sekedar awalan. Hobi yang tidak dibarengi dg kompetensi tentu saja akan berakhir berantakan🙂

    Oiya, Bank Al, tentang klo seseorang punya hobi tidur.
    Spt komen saya thd bang E’ep; Ketika kita punya hobi, ndak lantas itu bisa jadi bisnis yg bagus. Krn kita juga harus meletakkan hobi kita dalam paradigma kewirausahaan. Tapi yang sudah pasti valid adl, menjadikan apa2 yang sdg dibisniskan sbg sebuah hobi😛

  15. rinne said

    mengutip kalimat mas guntar :
    “Dan amat disayangkan bhw kewirausahaan memang tidak diajarkan scr kontekstual di kampus. Di kampus, kebanyakan riset2 ilmiah, penugasan2 hingga judul skripsi lebih diarahakn untuk intellectual atau academic exercise. Artinya, amat sedikit (mo bilang ngga ada ya gimana gitu) karya2 yang bener2 relevan dg kbutuhan masyarakat atau dibangun dg paradigma bisnis.”

    menurut saya, jika memang program studi yang diambil adalah S1, maka kampus tidak bisa disalahkan karena lebih mengarahakn untuk intellectual atau academic exercise. setau saya S1 memang diarakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan. amat disayangkan jika ilmu yang telah mereka pelajari selama 4 tahun, yang mestinya bisa lebih digali dan dikembangkan tapi ternyata sama sekali tidak terpakai. malah mereka ambil profesi lain yang sebenernya bisa di geluti bahkan oleh lulusan SMA. kalo tujuannya adalah aplikasi bisnis, knapa nggak ambil D1 ato D3 yang memang diarahkan untuk bekerja, bisnis,dll… mereka tidak kalah dengan lulusan S1 dalam hal pekerjaan. jadi mungkin sebaiknya siswa SMA, memikirkan baik2 kemana tujuannya sebelum masuk kuliah.. jangan sampe salah jurusan. kan jadi mubadzir =)

  16. Guntar said

    Sdr Rinne, klo saya pikir, baik S1 atau Diploma sama saja; pembekalan ilmu bisnis kontekstualnya amat minim dan tidak mencukupi🙄 Saya memilih untuk sepakat dg gagasan cemerlang dari pak Daniel Rosyid, ketua Dewan Pendidikan Jatim dalam salah satu tulisan beliau. Kampus hendaknya punya dua arahan jalur pendidikan: entrepreneur dan professional (termasuk dosen dan ilmuwan/peneliti).

    Saat ini jumlah pengangguran di Indonesia sudah mencapai 45,2 juta. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.650.000 orang penganggur terdidik lulusan perguruan tinggi. Mengapa bisa demikian? Karena kita punya banyak orang pintar, tapi kurang bisa berbisnis.

    Terima kasih sudah berbagi, sdr Rinne. Saya berharap Ubaya bisa menjadi contoh bagi kampus2 yg lain🙂

  17. fahmi said

    Salam mas Gun,
    wah ini pertama kali saya nulis di sini.

    Sekedar sharing, ternyata orang zaman ekonomi “berburu dan mengumpulkan” dahulu kala, tidak perbedaan kerja dan hobi -mungkin karena dulu belum kenal istilah hobi ya🙂 hobi/kerja adalah berburu binatang, dan hasilnya dinikmati bersama keluarga besar mereka. mereka hanya “kerja” tidak lebih dari 3 jam sehari.

    Zaman kita sekarang sangat sulit menemukan atau menerapkan kerja bagian dari hobi. Tantangannya adalah bagaimana kerja kita bagian dari hobi atau mudahnya menjadikan kerja kita saat ini menjadi hobi. Trims mas.

  18. Dalam menunjukkan kedigdayaannya, informatika harus dipertemukan dengan berbagai ragam keilmuan, bahkan ’sekedar’ untuk memastikan solusi ybs bener2 menyelesaikan persoalan dan lalu memastikannya terjual. Akhirnya byk anak informatika yang berpikir mereka skdr programmer, bukan technopreneur.

    Setuju sekali…. pas sekali dengan pemikiran saya.

    Akan tetapi sekedar pemikiran tidak bisa menyelesaikan masalah. Untuk itu saya dan bbrp temen saat ini sdh merintis kelompok studi anak negeri. Di kelompok studi ini kita akan mencoba membentuk kelompok belajar lintas bidang. Dan disini tidak ada strata antara mahasiswa, dosen, atau praktisi. Jurusan IT maupun non IT.

    Saya mengundang teman-teman yang memiliki visi yang sama untuk bergabung. Akan tetapi rilis web resmi kami publish tanggal 17 Agustus, jadi saat ini mohon bersabar dulu.

  19. andi bagus said

    wah cempluk ikut loh techopreneur, tapi hari kedua gak ikut..karena temen2 2005 ikut lomba kotex dan masuk 5 besar, jadi angkatan 2005 kebanyakan jadi suporter lomba..

    salam perjuangan,

    cempluk

  20. dika said

    good idea here😉

    kapan2 klo ada workshop gitu lagi, boleh kabar2 dunks! atw boleh gak minta materi workshop-nya? *sedang belajar menjadi wiraswasta, hehe, makasi banyaks!😀

  21. benbego said

    kok ngga diupdate lagi sih mas nakula? tambah infonya donk!😀

  22. ghosty said

    wah mas, artikelmu bagus banget. akhirnya aku menemukanmu setelah sekian lama kita ga kontak-2 lagi.
    sukses terus ya mas. semoga Allah memberimu kesehatan, biar bisa menginspirasi lebih banyak lagi orang-2 di dunia ini.

  23. aldi said

    Saya setuju sekali dengan pemikiran dari teman2 semua. Menurut saya, jawaban dari mengapa tidak ada orang/mahasiswa TI yang berpikiran untuk berbisnis software adalah banyak sekali mahasiswa TI yang tidak menguasai teknik pemrograman.

    Bukan sepenuhnya salah mereka. Saya sendiri sebagai seorang siswa TI terpaksa mempelajari sendiri bahasa2 pemrograman di rumah karena di tempat kuliah kurikulum yang ada terlalu banyak (dipaksakan). Mata kuliah2 yang menurut saya tidak/kurang berguna bagi kehidupan juga ikut diajarkan.

  24. tipsbisnisuang said

    betul! salah satu cara memulai bisnis dari hobi. Tapi, tidak berhenti disitu, kita perlu berlatih dan berlatih. Jatuh dan bangun. Nah, perlu mental baja untuk jadi pemenang!
    salam sempurna!

  25. setuju, jika g ada nyat y gak tercapai….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: