Bintang Tauladan !

Entrepreneur Lifestyle … mempersiapkan diri untuk menjadi Teladan.

Jadi Pemenang Tanpa Curang

Posted by akhmad Guntar pada Agustus 23, 2006

Play by the rule – compete fiercely and faiely – but no cutting in the line.


Buku Winners Never Cheat adalah buku yg menarik. Direkomendasikan oleh pimpinan saya, buku ini berbicara banyak tentang kiprah nurani dalam bisnis.

Kita tahu sama2, cari uang tu gak gampang. Proyekan ada di mana2, tapi untuk start-up bisnis terutama, semua tampak susah tergenggam. Ada yg bilang, “Cari yg haram aja susah, apalagi cari yg halal”. Mblegedesh, gatel banget ama ucapan ini. Berbagai argumentasi yg bilang bahwa “kecurangan dibutuhkan agar kita bisa kompetitif dalam bisnis” juga mbikin diri gerah kepalang.

Post ini telah dimigrasikan ke AkhmadGuntar dot com
Silahkan klik link berikut untuk terus membaca :

Jadi Pemenang Tanpa Curang

24 Tanggapan to “Jadi Pemenang Tanpa Curang”

  1. Putri said

    hore … pertama … ^_^

  2. dian said

    yang paling celaka adalah orang yang curang pada diri sendiri
    jangan sampe deh ya

    Tetapi, memang itu, impian seseorang adalah melakoni perilaku mulia dan bisa selamet dunia akhirat…

  3. paman tyo said

    Etika. Moralitas. Sejujurnya itu susah. Dik Guntar benar, itu juga menyangkut norms and values orang yang kerja bareng kita.

    Tapi dalam batas tertentu, pertahanan diri masih menolong kok.

    Seorang editor menerima sodoran naskah setengah matang dari penulis yang bisa melayout.

    Apa yang pertama kali dijanjikan oleh si editor?

    Pertama: “Saya nggak akan memfotokopi maskah ini untuk alasan apapun”

    Kedua: “Orang lain, terutama bagian bisnis, kalaupun mau melihat harus saya tunggui.”

    Ketiga: “Misalkan kami nggak tertarik, naskah akan saya kembalikan, saya nggak menyimpan kopian, dan sebisanya saya tak mengingat supaya tak terdorong untuk bikin sendiri yang mirip dengan karya Anda.”

    Pada pertemuan kedua si editor bilang:

    “Ini masih penjajakan, tapi saya tak sepakat dengan ancaran harga yang Anda sodorkan. Saya nggak suka sama harga Anda. Sekali lagi: nggak suka! Bagaimana kalau saya lipatkan dua kali?”

    Menjadikan proposal, presentasi, atau lontaran calon mitra bisnis sebagai ilham dadakan untuk dimatangkan dan dijadikan proyek sendiri, apakah itu etis?

    Temannya bilang, “Tapi itu menguntungkan. Itulah kompetisi. Kompetitor juga pada gitu kok. Kita juga sering digitukan.”

    Si Gundah, bukan si Guntar, menyahut, “Kalau begitu apa bedanya kita dengan kompetitor?”

    Martabat dalam bisnis yang sehat adalah beroleh uang banyak dengan cara bersih. “Hayah,” kata tetangga.

  4. S Setiawan said

    Duh, koneksi duduls.

    Keempat! :-”

    *reply dulu, baca nanti*

  5. Hedi said

    Sama dengan politik berke-Tuhanan dan beragama, bukan agama berpolitik, mas. Berat memang, tapi paling enggak ada usaha menuju ke arah itu, ikhtiar.

  6. Goio said

    First, do the RIGHT thing… then make sure you do it RIGHT!
    artinyah:
    Pertama2, lakukan hal yang benar… setelah itu, yakinkan untuk mengerjakannya dengan cara yang benar

    akh, siapa saya sih? sok berfilsafat?…

  7. Guntar said

    Dian
    Jangan mencurangi dan mendzolimi diri; sepakat, mbak Dian 🙂

    Paman Tyo:
    Wacana yang amat menarik, Paman Tyo. Terima kasih 😛
    Penekanan saya dlm issue ini adl memastikan dulu rekan kerja terdekat bisa diandalkan dlm menjaga moralitas. Ttg client atau kompetitor yang ngajak nakal, saya pernah ngalami. Pernah tuh berurusan ama oknum pemerintah. Klo dah minta sogokan terang2an banget. Malu & risih banget rasanya ndengerin.
    Emg ada kalanya kita ketemu ama komunitas relasi, kompetitor atau client yang nakal. Tapi apapun, yang penting kita bisa njaga diri agar tidak lantas jadi permisif atas segala keburukan yang ada. Hati kita minimal kudu membencinya.
    Saya sendiri masih baru 4 tahun berbisnis entrepreneur. Masih butuh banyak belajar dan timba pengalaman.

    Hedi:
    Sepakat, mas Hedi. Kita semua punya hak dan kekuatan ikhtiar utk jadi pebisnis yang berakhlak 😛

    Goio:
    Bagus sekali cara sampean mengungkapkan, mas Goio 8)
    Saya sih ndak nganggep itu sbg filsafat kok; bagi saya itu practical 🙂

  8. daniel said

    Susah amat jadi manusia berkarakter.
    Wong saya abis makan permen trus nyimpen bungkusnya di kantong gara-gara nggak ada tempat sampah aja dibilang jorok 😦

  9. Since said

    Bisnis yang jujur…? Hmmm…
    Menghargai diri sendiri dan juga menghargai klien/pelanggan adalah hal yang saya terapkan dlm usaha saya. Kepercayaan pelanggan merupakan jaminan dalam sebuah usaha kan?

  10. aalinazar said

    ini lagi ngomongin pertandingan 17 agustusan ya ?

  11. Abu Yusuf said

    Wah, jadi ingat bukunya Ary Ginanjar “The ESQ Power” yang banyak cerita penggunaan nurani sebagai guidance kita dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari. Termasuk dalam berbisnis.
    Saya belum baca “Winners Never Cheat”, tapi kliatannya ada benang merah antara dua buku itu, tentang penggunaan nurani.
    Dulu, tempat kerja saya masih banyak hal-hal yang halam(halal + haram), tapi setelah dipikir-pikir lagi, buat apa, gak ada artinya.
    Akhirnya mulai menjauhi hal-hal tersebut, cuma ya itu tantangan dan godaannya luar biasa beratnya.
    Tapi pelan-pelan sudah bisa mulai dijalankan, walaupun banyak gonggongan kanan kiri, sudah mulai bisa diabaikan.
    Thanks, glad to know we have friend on the same path

  12. Guntar said

    Daniel:
    Habis makan permen karet ya maksudnya :mrgreen:

    Since:
    Sepakat sekali, mbak Since. Dan butuh kejujuran berulangkali untuk memupuk reputasi terpercaya 🙂

    Aalinazar:
    Klo pertandingan 17an mah, makin curang malah makin asyik. Soale kompetisnya larinya jadi ke guyonan. Enak, mbikin makin akrab 😛

    Abu Yusuf:
    Salut buat sampean 8). Gonggongan kanan kiri tu emg berat. Apalagi hasil dari penggunaan nurani ini bisa jadi ndak datang dengan segera. Inilah tantangannya.
    Di manapun kita berbisnis dan berinteraksi, pastikan kita punya satu komunitas khusus yang tetap bisa menjaga diri kita dari tercemar. Karena nggak semua dari kita mampu jadi ikan di lautan; yang dagingnya tetap tawar meski hidup di lautan yang asin.

  13. kamale said

    hmm.. bisnis dgn cara ‘gak beres’ di jaman sekarang kayaknya sudah hampir semua. Mayoritas perusahaan, bahkan mereka punya budget khusus, yang itu digunakan untuk memberi “pelicin” kepada para customernya.
    Ada budget khusus, dan mereka anggap itu wajar, dan harus.
    Kalo gak gitu, bakal gak dapet project katanya..

    Iya semoga senantiasa bisa tetap “tawar” walau kita hidup di asinnya air laut.. 🙂

  14. haikal00 said

    cari yang haram aja susah, apalagi cari yang halal
    dibalik aja:
    kalo dua-duanya susah, ngapain pilih yang haram? he he he..

    tp njalaninnya sih ga gampang…

  15. Guntar said

    Kamale:
    Walah; ati2 lho, Mal. Kok koyok2e desperate ngono. Eling lho, Kamal juga mo jadi entrepreneur kan 🙂 So, jangan kemakan ama Bandwagon dan OverGeneralization. Biarlah mereka smua kayak gitu, tapi kita ndak usah ikut2an spt itu. Dan ternyata lebih gampang utk tegas thd nilai klo kita dah punya bisnis sendiri. Makanya, Mal. Ndang buka bisnis dhewe hayo :mrgreen:

    Haikal:
    Sepakats! 8)
    Sing repot tu klo ketemu wilayah abu2; masih binun ini boleh apa nggak. Dan dari pengalaman, kadang saya malah ndak nyadar apakah suatu fenomena tertentu perlu dimaknai dan dievaluasi halal-haramnya apa nggak :roll:. Baru ketauan beberapa waktu sesudahnya pas lakukan evaluasi diri atau stelah dapet pencerahan dari senior bisnis.

  16. kamale said

    oo.. itu menurut masGun nada desperate tho?? Moso’ seh ya?? Kok aq biasa saja.. 🙂
    btw ttg ini http://en.wikipedia.org/wiki/Argumentum_ad_numerum
    bagus masGun.
    Sadar atau tanpa sadar, sebenarnya hal ini sudah banyak terjadi dlm beberapa aspek.

    Tapi insyaAllah aq belum sampe kena (dan insyaAllah gak akan kena! aamiin). Sering banget dpt tawaran gitu dari vendor, dan so far, bisa menghindar.. 😉

    Btw seperti yg pernah aq bilang di awal kerja dulu, bahwa dunia kerja “seringkali” (bukan generalisasi lho) bikin otak ini jadi “jamuran”..
    Sayang kalo belum bisa gali potensi optimal (atau mgkn ada “something wrong” di tempat kerja sini yaa.. hehe.. :D)

    Semoga akhir tahun ini sudah gak disini lagi 😛
    Cukup 2 tahun deh.. 😉

  17. Goio said

    Mas Guntar, aku bilang filsafat karena sampai saat ini aku sendiri masih lebih sering gak bener-nya daripada benar-nya.. trus ada yang lebih bikin puyeng nih mas Guntar… sebenernya mana yang lebih bagus *kalau harus memilih*, melakukan yang baik, atau melakukan yang benar?… karena yang baik itu tidak selalu benar, begitu juga sebaliknya …

    pusying?… sama.. aku juga pusying pas mbaca lagi komenku ini :D… jadi intinya apa sih goi?

  18. r munadji said

    wah…penggemar kucing ya kok punya sampe 13 …. dulu saya cuma 12…

  19. r munadji said

    wah…penggemar kucing ya kok punya sampe 13 …. dulu saya cuma 12… eh kok gak bisa submit?

  20. Jauhari said

    Mas kok KETOE ceriratane tempat kerjone sampean MANTAP ngono? emang kerjo ndek opo sih? bukannya cari PEMBANDING… tapi koyoke MANTEP ngono loo…..

  21. […] Tapi apa saja sih patokan etika bisnis? Kalau kita bilang nurani, termasuk nuraninya Siti Nuraini, itu pun masih belum jelas bentuknya. Guntar(ion) si Bintang Tauladan pernah menyinggung soal ini, dan saya menorehkan komentar yang rada nyiniyir di sana. […]

  22. Jujur itu mudah

    Jujur itu mudah, tapi jadi begitu sulit ketika ada unsur uang dan kesempatan didalamnya.
    Saya tahu, ini cuma sebuah ujian dari beratus-ratus ujian lainnya. Dan saya hampir saja terpeleset masuk kedalamnya. Dan menjadi jujur itu sebetulnya mudah.

  23. Saya pun sudah membaca buku ini. Seorang pengikut “mormon,” kalau tidak salah masih dilarang di Indonesia (benar begitu?), yang sukses membangun usaha dengan etika bisnis yang hebat yang dia dengar semasa kanak-kanaknya, “Winners Never Cheat, Cheaters Never Win.”.

    Pengalaman Jon M. Hunstman berbisnis di Thailand yang korup membuatnya tidak betah disana, (lupa di bab mana, he3). Mungkinkah dia juga enggan berbisnis di Indonesia yang notabene sama atau mungkin lebih korup dari Thailand? Ironinya disini, mormon yang dianggap sesat ternyata lebih bernurani.

  24. […] Dan yang gawat klo ternyata malah pimpinannya yang mbikin rese. Seperti yang saya bahas di posting Jadi Pemenang Tanpa Curang, internal warning system yang ndak berjalan malah bisa memunculkan para whistleblower. Makanya, […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: