Ditulis oleh akhmad Guntar di/pada Mei 19, 2006
Kita perlu tau beda antar ketiganya, biar bisa dg tegas membaca posisi kita dan orang lain utk kemudian menindaklanjutinya dg bijak.
Tentunya kita udah tau sama2 apa itu egois; perilaku pemenuhan kebutuhan & hak diri yg melanggar hak orang lain. Ada yg terdzolimi di sini.
Sementara itu, Asertif adl sikap egois -ngurusi urusan diri- yg TIDAK merugikan atau melanggar hak atau personal boundary orang lain. Jika saya pengen dengerin theme The Last Samurai keras2 pd jam kerja misal, itu boleh kan, itu hak saya. Tapi pake headphone dong, biar ndak ngganggu hak orang lain. Kecuali orang lain ndak keberatan. Letak asertivitas adl pd nyali & keberanian kita memenuhi hak & kebutuhan Pribadi kita. Tapi syarat utamanya, NDAK BOLEH ada yg terdzolimi.
Nah, klo martir, itu adalah sikap pasif dan sungkan yg keterlaluan. Kaki keinjek ndak mau protes krn sungkan, malu atau malah takut. Kebelet pipis waktu maen di rumah temen, tp ndak mau pinjem kamar kecil krn malu. Kacian deh.
So… Jangan keliru menamai kondisi ya…dan jangan keliru memilih sikap
Ditulis dalam Hikmah | Leave a Comment »
Ditulis oleh akhmad Guntar di/pada Mei 19, 2006
Saya dulu tu pernah kejebak dalam situasi di mana saya harus mengambil keputusan krusial dengan segera. Ini terjadi di akhir masa jabatan saya sebagai ketua hima T.Informatika ITS. Waktu itu saya bener2 lakukan serentetan sikap konyol yang akhirnya berbuntut pada kepelikan lebih besar. Ruwet wis poko’e. Saya sendiri akhirnya butuh beberapa bulan untuk bisa pulih dari kegetiran pengalaman itu. Fiuh….
Namun saya bersikeras meyakini bahwa dalam setiap kepelikan atau kemunduran pasti terdapat bibit pembelajaran atau keuntungan yang sepadan atau bahkan lebih besar dari tingkat kepelikan itu sendiri. Gara2 mbaca buku nih :p. Tapi ya jujur aja, ndak gampang mempertahankan keyakinan semacam itu.
Tapi emang benar deh, makin besar, rumit dan mbulet masalahnya, saya justru bisa belajar lebih banyak -pada akhirnya, cepat atau lambat :p. Beberapa minggu setelah kejadian yang saya ceritakan di atas terjadi, saya jadi ngerti bagaimana membangun nyali yang solid, bagaimana membuat orang lain mandeg berpikir ketika bernegosiasi, bagaimana membelokkan issue, bagaimana menyetting forum, bagaimana membangun konflik terkendali, dan masih banyak lagi yang lain. Banyak poko’e.
Tentu saja, apakah kita menganggap pengalaman memalukan kita sebagai pembelajaran atau pengalaman sampah, itu akan menjadi sama-sama benarnya. Terserah kita memutuskan untuk memilih yang mana.
Ditulis dalam Pengalaman | Leave a Comment »